Tahun 2011. Saya memulai karir profesional sebagai produser film. Dan ribuan kilometer jauhnya, ratusan ribu orang sontak memulai hidupnya sebagai pengungsi.
Tak ada yang percaya bahwa demonstrasi damai dan pro-demokrasi melawan Presiden Bashar al-Assad di tahun itu berubah eskalasinya menjadi perang yang mengubah masa depan Suriah. Sebuah peristiwa yang terjadi bertahun-tahun dan menyedot habis seluruh energi negeri dan warganya. Dan Suriah menjadi luluh lantak dan lantas ditinggalkan ribuan penduduknya.
Ratusan ribu orang tak pernah membayangkan bahwa hidup penuh damai yang mereka jalani harus lenyap sekejap mata. Dan mereka harus mengambil keputusan paling penting sekaligus terberat dalam hidup mereka: tetap bertahan di negeri sendiri atau menyelamatkan diri ke negara asing?
Saya tak bisa membayangkan apa yang Yusra dan Sara Mardini harus hadapi. Ketika memutuskan merantau ke Jakarta di akhir 2005, saya seperti memasuki wilayah asing. Saya mesti menjalani sekian lama adaptasi, sekian waktu penyesuaian demi bisa bertahan. Tapi Jakarta bukan Daraya, tempat keluarga Yusra dan Sara bermukim di Damaskus. Meski terasa asing namun Jakarta bergerak dalam damai. Sementara di Daraya, warga mesti membiasakan diri dengan desing peluru dan ledakan bom yang bisa terjadi kapan saja dan dimana saja.
Yusra dan Sara Mardini adalah sosok remaja perempuan tangguh yang tahu bahwa perjuangan dimulai dari merawat mimpi. Terutama Yusra yang sejak usia 9 tahun sudah berlatih renang. Ayahnya selalu menanamkan mimpi bahwa ia bisa meraih tiket ke Olimpiade. Maka ia tekun berlatih tanpa kenal lelah agar ia bisa melihat dunia yang lebih luas.
Tapi kehidupan memang seringkali mengejutkan. Tak pernah terbayangkan sedikitpun oleh Yusra dan Sara bahwa keduanya betul-betul akan mengarungi lautan demi merawat mimpinya. Tak pernah sedikitpun terpikirkan bahwa mereka akan pergi berenang melintasi lautan demi mencari kehidupan yang lebih baik.
Dan “The Swimmers” yang tayang di Netflix jauh dari cerita soal from zero to hero. Ini adalah sebuah kisah survival. Bagaimana para pengungsi mengambil resiko hidup mati terombang-ambing di tengah lautan daripada merelakan nasib terombang-ambing di negeri sendiri yang tengah bergejolak. Bagaimana Yusra dan Sara yang masih remaja dipaksa dewasa menjalani petualangan berbahaya dari Suriah menuju Turki dengan menumpang kapal dengan fasilitas seadanya. Dan bagaimana mereka akhirnya berenang di tengah lautan lepas dan hanya bisa memohon pada Tuhan agar bisa menjaga keselamatan mereka semua.
Hati kita bergetar. Mata kita perlahan basah. Saya tak bisa membayangkan apakah bisa menjadi Yusra dan Sara yang sekuat itu. Saya bahkan tak ingin memikirkan kemungkinan bagaimana menjalani petualangan yang mengancam jiwa itu. Terpisah dari keluarga yang khawatir dan tercabik dari negeri yang terbakar. Tak ada cara untuk kembali. Sekali jalan dan tak perlu melihat lagi ke belakang.
Tapi kehidupan memang harus terus dijalani, seberat apapun keadaannya. Yusra dan Sara tahu itu. Sesekali mereka menangis, kali lain mereka mengeluh tapi Yusra tak pernah melupakan mimpinya: membawa harum nama Suriah di percaturan Olimpiade. Cinta tanah air memang kadang terasa terlalu romantik, juga bisa menjadi sesuatu yang tak mudah dimengerti. Tapi keterikatan dengan tanah air, meskipun ia tengah luluh lantak, tak mudah lepas begitu saja.
Yusra terus berenang mengarungi mimpinya. Meski Suriah masih terus bergolak hingga hari ini. Lamat-lamat terdengar suara Adonis, penyair terkenal dari Suriah itu, menggaungkan puisinya, Barangkali Kau Benar-Benar Negeriku.
Inilah aku
memanjat dan bertengger di atas pagi negeriku
di atas bangunan-bangunan dan kepungan debu
Inilah aku
terbebas dari segala misteri kematian
pergi dari negeri ini
untuk kelak dapat melihatmu lagi
sebagai benar-benar negeriku






LEAVE A REPLY