Home SERIAL Di Bawah Lindungan Jebediah Pyre

Di Bawah Lindungan Jebediah Pyre

Serial Under the Banner of Heaven [2022] - Tayang di Disney Plus

7
0
SHARE
Di Bawah Lindungan Jebediah Pyre

Tahun 2007. Saya masih menikmati karir sebagai publicist film dan Andrew Garfield mulai menarik perhatian lewat peran utama pertamanya dalam film “Boy A”.

Berperan sebagai Jack yang baru saja keluar dari tempat rehabilitasi anak nakal, Garfield membiarkan dirinya tampil rapuh. Menampilkan kerapuhan secara telanjang selalu menjadi salah satu cara bagi penonton maupun kritikus menilai keaktoran seseorang. Kerapuhan juga menjadi jendela bagi penonton untuk menyelami seorang karakter dan mengidentifikasi dirinya dengan karakter tersebut.

Tiga tahun setelahnya, Garfield sukses “menenggelamkan” Jesse Eisenberg dalam kisah nyata pendirian media sosial terbesar sedunia, Facebook, dalam film “The Social Network”. Kita masih ingat bagaimana mangkelnya Eduardo Saverin, nama karakter yang diperankan Garfield, berteriak dengan suara lantang kepada Mark Zuckerberg [dimainkan Eisenberg], “My Prada’s at the cleaners!” 

Dan setelah memainkan salah satu karakter superhero paling dicintai, Spiderman, Garfield terus menantang dirinya dengan mengambil peran-peran beragam dan sulit. Namun yang menarik, dalam beberapa filmnya, ia memerankan tokoh yang bersinggungan dengan agama. Entah sebagai tentara religius dalam “Hacksaw Ridge” atau sebagai pastor Katolik yang bertualang ke Jepang dalam “Silence” hingga menjadi pastor penyeleweng uang jemaat dalam “The Eyes of Tammy Faye”.

Selalu menarik mencermati pilihan-pilihan peran yang diambil secara sadar oleh para aktor kelas satu seperti Garfield. Dan juga selalu menarik mencermati bagaimana mereka memainkan karakter yang dipercayakan pada mereka dan memasukkan banyak emosi dan sisi rapuh ke dalamnya. Seperti yang sekali lagi diperlihatkan Garfield dalam serial “Under the Banner of Heaven”.

Premis serial ini sangat menarik minat saya. Bagaimana rasanya menjadi seorang detektif yang religius ketika menyelidiki kasus pembunuhan ibu dan anak dan pelan-pelan merasa imannya tengah digerogoti dari dalam? Garfield bermain sebagai Jebediah Pyre dalam cerita berlatar tahun 1980-an ini. Kita melihat ia memainkan dua karakter dalam sebuah serial: sebagai pimpinan keluarga yang religius namun juga sebagai detektif yang meragu.

Bagaimana kita meyakini bahwa apa yang kita imani benar? Bagaimana jika agama yang kita jalani selama ini ternyata menyimpan borok-borok masa lalu yang teramat busuk? Dan bagaimana pula kita bersikap sebagai ayah dan suami di tengah keluarga yang kukuh mengimani agama yang diyakini itu?

Iman bukanlah mempercayai apa yang terang tanpa mempercayai apa yang gelap. Saya sepakat dengan apa yang dikatakan Goenawan Mohamad tersebut dalam Catatan Pinggir. Dalam iman tak hanya terang, juga ada gelap, bahkan abu-abu. Dan ragu selalu diperkenankan agar kita terus mencari kebenaran yang hakiki. Bahkan ragu adalah jalan sunyi dalam pergulatan iman seseorang yang kita tak pernah tahu akan berakhir dimana ujungnya. Tapi kita percaya ragu lah yang akan kembali mendekatkan kita pada apa yang kita yakini.

Sebagai detektif, Pyre tentu tak bisa memilih kasus yang akan dihadapinya. Apalagi jika kasusnya bersinggungan langsung dengan agama yang diyakininya. Semakin lama kasus tersebut bergulir, keraguan Pyre semakin bertambah. Dalam sebuah adegan yang sangat intens, di dalam mobil yang terparkir di garasinya, Pyre gemetar mengambil buku merah dari dashboard. Buku merah itu mencatat sejarah yang tak pernah dibacanya tentang agama yang diyakininya, Kristen Mormon. Dan ia gentar.

Kegentaran Pyre mungkin sebanding dengan rasa gentar yang kita rasakan ketika aksi terorisme terjadi di sebuah wilayah dan nama Islam disebut-sebut lantang disana. Mungkin kita tak pernah membayangkan agama dan terorisme bisa disebut dalam satu kalimat karena hakikat antara satu dan yang lain bertolak belakang. Agama mengajarkan kasih sementara terorisme memecah belah. Dan kita semakin gemetar karena seringkali terorisme itu membenarkan dirinya dengan bersembunyi dibalik sebuah ayat.

Garfield melihat Pyre mungkin sama seperti kita melihat tokoh detektif itu. Seorang manusia dengan segala keraguan yang dimilikinya, seorang ayah dengan segala ketakutan yang selalu coba disingkirkannya dan seorang suami dengan segala kekhawatiran yang dipendamnya dalam-dalam. Karenanya kita terkoneksi dengan Pyre, sebagaimana Garfield menghubungkan dirinya dengan karakter itu. Keraguannya terasa valid, ketakutannya terasa jujur dan kekhawatirannya terasa hingga ke hati.

Bagi yang beriman, menyaksikan “Under the Banner of Heaven” akan membuat mereka kembali menelusuri iman yang diyakini selama ini. Bagi yang tak beriman, menonton “Under the Banner of Heaven” mengundang keingintahuan benarkah semua agama punya sejarah kelamnya masing-masing? Dan kita manusia memang wajib untuk selalu punya pertanyaan bagi diri kita sendiri. Dan sejauh mana kita membiarkan rasa ingin tahu membuat kita menjadi manusia yang lebih terbuka terhadap apapun. 

Dan bagi Jebediah Pyre, ia hanya bisa berlindung pada Bapak Surgawi. Mungkin tidak lagi pada iman yang diyakininya selama ini. 

 

UNDER THE BANNER OF HEAVEN

Produser: Leslie Cowan, Brian Dennis

Sutradara: Courtney Hunt. David Mackenzie, Dustin Lance Black, Isabel Sandoval, Thomas Schlamme

Penulis Skenario: Dustin Lance Black, Brandon Boyce, Gina Welch

Pemain: Andrew Garfield, Sam Worthington, Daisy Edgar-Jones

Video Terkait: