Tahun 2018. Sepuluh sutradara terkemuka dunia berkolaborasi menghidangkan New York dalam beragam wajah. Maka kita melihat wajah kota yang memperlihatkan manusia dengan wajah-wajah aslinya dalam antologi New York, I Love You.
Di tahun 1980 hingga 1990-an kita juga banyak melihat film Indonesia yang memperlihatkan wajah beragam kota dari jarak dekat. Kota tak sekedar menjadi latar belakang namun kadang dipaksa menjadi pemeran utama berdampingan dengan sang aktor. Namun di tahun 2000-an kita sudah jarang sekali melihat kota yang digambarkan dengan utuh tanpa polesan di film Indonesia. Tahun 2015 saya sempat memproduseri film Miracle [Jatuh Dari Surga] yang memperlihatkan sisi-sisi kota Solo yang tenang dan cantik. Dan di tahun 2025 sutradara perempuan, Payal Kapadia, membingkai kota Mumbai yang hampir selalu dibasahi hujan dalam film bernuansa lembut, All We Imagine as Light.
Mumbai yang sebelumnya dikenal sebagai Bombay [digunakan hingga tahun 1995] dinobatkan sebagai kota terpadat kedua di Inda dengan jumlah penduduk mencapai lebih dari 20 juta orang. Mumbai juga dikenal sebagai kota termakmur di India dengan Gross Domestic Product [GDP] di Asia Selatan/Tengah/Barat. Karenanya Mumbai selalu menjadi incaran penduduk dari desa untuk bermigrasi, menggapai impiannya dengan susah payah dan menata hidupnya dengan segala keterbatasannya. Paling tidak bagi tiga perempuan pekerja di rumah sakit, Prabha, Anu dan Parvaty. Prabha dan Anu adalah perawat sementara Parvaty bekerja sebagai tukang masak di kantin rumah sakit. Ketiganya punya kehidupan masing-masing dengan rahasia yang disembunyikan rapat-rapat. Prabha ternyata sudah punya suami yang sedang bekerja di Jerman sementara ia sendiri tengah main mata dengan seorang dokter. Sementara Anu yang digambarkan seorang Muslim punya hubungan rahasia dengan seorang pemuda dan membuatnya hampir selalu kehabisan uang. Adapun Parvaty diusir dari rumah tempatnya tinggal selama bertahun-tahun dan mengharuskan dirinya kembali ke kampung halaman.
Di tangan sutradara perempuan kita melihat bagaimana cerita yang sesungguhnya biasa ini menemukan kekuatannya. All We Imagine As Light pun dituturkan dengan pelan, lembut, nyaris tanpa benturan dan riak-riak namun perlahan kita dibawa melihat lebih jauh bagaimana ketiga perempuan ini berjuang tak hanya dengan hidup namun juga dengan impian yang masih mereka genggam. Di negeri yang dianggap masih menjadikan perempuan sebagai warga negara kelas dua, ketiga perempuan ingin menentukan hidup dan masa depan mereka sendiri. Dalam segala kesulitan mereka berjuang dalam diam, tanpa mengeluh, menjalani hari demi hari dengan tabah.
Maka Mumbai menjadi karakter utama di antara ketiga perempuan itu. Kota menemani mereka di saat subuh saat sebagian orang belum menggeliat untuk berjibaku dengan kegiatan seharian. Kota menenangkan mereka dengan desiran-desiran rasa yang bercampur dengan bau hujan setiap saat. Dan kota juga menenangkan mereka dengan tetap setia berada di sisi mereka dalam setiap langkah mengejar impian yang kadang terasa menjauh.
Citarasa otentik itu bisa jadi dibangun berkat observasi yang teliti dan tak tergesa-gesa. Saya membayangkan Payal menulis skenarionya di tengah kota Mumbai yang sesak, menghirup udaranya dalam-dalam dan berbicara dengan mereka yang menjadi personifikasi dari ketiga perempuan dalam film. Citarasa itu semakin terasa otentisitasnya karena Payal juga menggabungkan komentar-komentar dari warga Mumbai ke awal film yang menjadi jembatan bagi penonton untuk masuk ke dalam semesta cerita. Introduksi sedemikian menjadi efektif dan menjadi penegasan bagi Payal bahwa Mumbai tak menjadi latar belakang namun juga menjadi karakter utama dalam film.
Dan di tangan sinematografer Ranabir Das, Mumbai direka ulang sebagai kota yang tak lagi sekedar padat dan tak lagi sekedar sibuk dan riuh. Ia juga menjadi kota yang romantik, dengan lampu-lampu berpendaran cantik di malam kelam, menjadi kota yang tenang di tengah hujan yang basah. Dan saya pun berpikir kapan film Indonesia akan kembali ke khittah-nya menghadirkan kota-kotanya yang cantik, dengan wajah-wajah para warganya yang tak saja sibuk dengan apapun yang mereka lakukan namun juga sibuk menata masa depannya kelak.
Indonesia tak hanya Jakarta dan Jawa. Film Indonesia bisa memotret kota-kota cantik di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua dengan beragam kekhasan, dengan beragam masalahnya masing-masing, dengan karakter khas dari warganya masing-masing. Film seperti All We Imagine As Light seharusnya menjadi inspirasi bagi kita semua bahwa film bisa menjadi etalase menjajakan kota-kota cantik yang kita punya ke seluruh dunia.
ALL WE IMAGINE AS LIGHT
Produser: Julien Graff, Thomas Hakim
Sutradara: Payal Kapadia
Penulis Skenario: Payal Kapadia
Pemain: Kani Kusruti, Divya Prabha, Chhaya Kadam






LEAVE A REPLY