Home FILM PENDEK Full of Sadness or Full of Self-Centered?

Full of Sadness or Full of Self-Centered?

Film Pendek My Therapist Said I Am Full of Sadness [2024] - Tayang di Netflix

43
0
SHARE
Full of Sadness or Full of Self-Centered?

Tahun 2002. Saya menjadi penyelenggara Festival Film Perdamaian di Makassar dan untuk pertama kalinya “berkenalan” dengan Michael Moore.

Salah satu film Michael diputar di event tersebut yang berjudul Bowling For Columbine. Saya terpukau bukan saja karena belum pernah sekalipun melihat film dokumenter panjang bisa digarap dengan seasyik itu dengan gaya penceritaan yang belum pernah saya lihat tapi juga terutama bagaimana Michael bisa memasukkan dirinya ke dalam film tanpa kita merasa bahwa Michael adalah seorang narsistik. Dan meski terkesan terlalu tendensius namun di film itu juga terasa betul Michael membicarakan sesuatu yang terasa sangat penting baginya dan jadinya terdengar serta terlihat sangat tulus oleh penonton.

Tapi Bowling for Columbine yang berdurasi panjang dengan My Therapist Said I Am Full of Sadness yang berdurasi pendek mungkin bukan komparasi yang setara. Tapi paling tidak saya melihat ada sebuah kegelisahan dan keberanian dari Monica Vanesa Tedja untuk mengekspos dirinya ke publik dan melihat sisi dirinya yang paling personal dalam film tersebut. Saya tidak menuduh Monica mencoba untuk narsis, mungkin ia hanya mencoba untuk jujur yang oleh sebagian orang bisa dibaca sebagai narsistik.

Tapi lupakan dulu soal narsistik. Karena My Therapist I Am Full of Sadness juga se-powerful Bowling For Columbine karena pemilihan isunya. Bayangkan dirimu adalah seorang perempuan keturunan Cina yang dibesarkan di lingkungan Kristen yang taat. Dan ada momen dalam dirimu dimana kamu menemukan ketidakbahagiaan. Dan itu terkait dengan penerimaanmu soal ketubuhan yang bisa jadi sesuatu yang selain personal, juga bisa jadi aib bagi sebagian besar keluarga di Indonesia. Kamu tahu kamu berbeda, kamu tahu kamu mencintai keluargamu tapi kamu pun ingin mencari kebahagiaanmu sendiri. Kamu hanya ingin jujur pada dirimu sendiri dan tak ingin lagi bersembunyi. Maka kamu memutuskan pindah ke sebuah kota yang jaraknya lebih dari 10 ribu kilometer. Kamu tak sekedar ingin memulai hidup baru, kamu juga ingin bertemu dengan keluarga baru yang mungkin bisa menerima dirimu yang baru.

Maka My Therapist I Am Full of Sadness tampil seperti kotak pandora yang membuka banyak rahasia yang bisa jadi dialami mereka yang juga bergulat dengan identitas dirinya seperti Monica. Meski saya seorang hetero namun saya toh tetap bisa merasa terhubung dengan soal bagaimana rasanya dicintai dan diterima. Mau kamu lesbian atau bukan, dua hal ini tetap saja penting dan menjadi faktor utama yang membuat kita merasa bahagia. Dalam 22 menit durasinya, Monica mengajak kita menyusuri masa kecilnya, melihat bagaimana relasinya dengan kedua orangtuanya dulu dan kini.

Saya menyukai sikap Monica untuk mencoba netral dan tak menghakimi. Ia mencoba memahami mengapa ayah dan ibunya [dan tentu saja sebagian besar orangtua di Indonesia] sulit untuk menerima perilaku homoseksualitas di Indonesia. Terlebih dengan pilihan berani Monica untuk bertransformasi menjadi identitas yang baru. Saya menyukai bagaimana Monica masih merasa [meski seperti judulnya tetap sedih] bahwa ia tak bisa begitu saja melarikan diri dari keluarganya. Dan ia mencari jalan untuk tetap dicintai dan diterima.

Tapi karena dokumenter pendek ini betul-betul menyandarkan dirinya pada kisah hidup Monica bisa jadi sebagian akan menganggapnya sebagai “self-centered”. Bagi saya tak apa jika hal itu terasa karena toh Monica melakukannya, merekam perjalanan hidupnya ke dalam film, bisa jadi bagian dari terapinya. Dan kita bisa belajar sama-sama dari sini. Tak banyak orang yang mau mengekspos kerapuhan dirinya dalam sisi paling personal ke publik. Tak banyak orang yang berani menyuarakan kegelisahan terdalam yang mungkin dipendamnya selama bertahun-tahun. Dan saya menghargai Monica, berikut film ini, karena itu.

Sementara bagi skena dokumenter di Indonesia, My Therapist Said I Am Full of Sadness jadi sebuah tonggak penting. Bahwa dokumenter membosankan yang hanya dipenuhi wawancara ngalor ngidul sudah lewat masanya. Bahwa dokumenter bisa dirakit dari pengalaman pribadi dengan menyisir rekaman masa lalu yang terdokumentasi dengan rapi. Bahwa dokumenter yang jujur akan terasa tulus sampai ke hati penonton dengan caranya sendiri.

Setelah menonton film ini saya mengingat-ingat kembali saat lebih dari 20 tahun lalu meninggalkan kampung halaman di Makassar, membuang cita-cita menjadi dokter begitu saja, untuk mengejar impian lain yang waktu itu susah betul direstui orangtua. Bertahun-tahun saya merasa sengsara di ibukota karena merasa tak lagi dicintai dan diterima oleh ayah saya. Tapi perjuangan saya jelas tak ada apa-apanya dibanding Monica dan mereka yang mengalami pergulatan identitas sepertinya. Bagaimana pun seseorang tetap perlu merasa dicintai dan diterima demi menemukan bahagia.

 

MY THERAPIST SAID I AM FULL OF SADNESS

Produser: Astrid Saerong, Monica Vanesa Tedja, John Badalu, Gugi Gumilang

Sutradara: Monica Vanesa Tedja

Penulis Skenario: Monica Vanesa Tedja

Pemain: Monica Vanesa Tedja

Video Terkait: