Home FILM Kisah Sapu Tangan Berwarna Kuning

Kisah Sapu Tangan Berwarna Kuning

Film The Yellow Handkerchief [2008]

14
0
SHARE
Kisah Sapu Tangan Berwarna Kuning

Tahun 1988. Saya masih duduk di bangku SD dan Stefanus Soewarno menggantung diri di kamarnya di kampung Sewu, Solo, Jawa Tengah.

Stefanus Soewarno lebih dikenal dengan nama S Warno adalah pencipta lagu Sapu Tangan Merah Jambu. Sebuah persembahan bagi rasa cinta diwakili sebuah benda dengan bentuk dan warna khas. Pada masanya, sapu tangan selalu dibawa oleh laki-laki dewasa untuk “dipinjamkan ke perempuan yang sedang butuh untuk menangis”, seperti kata Robert De Niro ke Anne Hathaway di “The Intern”.

Bagi Stefanus, sapu tangan merah jambu adalah perlambang bentuk cintanya untuk sang kekasih. Sementara bagi Brett, sapu tangan berwarna kuning adalah perlambang kerinduan yang teramat dalam. Kerinduan yang dipisahkan oleh enam tahun kesunyian dan penyesalan.

Brett dalam “The Yellow Handkerchief” yang tayang di Lionsgate Play adalah seorang laki-laki dengan sebungkah penyesalan yang memenuhi dadanya. Ia tahu waktu enam tahun tak cukup baginya untuk menghapus kesalahan demi kesalahan yang dilakukannya. Ia tahu waktu enam tahun tahun tak cukup untuk menghapus luka menganga yang dilakukannya kepada May, mantan istrinya. Dan ia memilih berjalan menyusuri hari ini demi memulihkan diri dan masa lalunya.

Masa lalu memang kadang seperti hantu. Tak tampak namun seringkali menakutkan. Tak terlihat namun seringkali membingungkan. Dan laki-laki kadang punya caranya sendiri untuk berhadapan dengan masa lalunya. Kebanyakan diantaranya memilih untuk menghindar dirinya. Sebagian kecil diantaranya dengan gagah berani menatapnya lekat.

Tapi kita tak akan ada di hari ini jika bukan karena kemarin. Masa kini tak ada tanpa masa lalu. Brett tahu itu dan ia tak pernah membantah soal kesalahan yang dilakukannya pada May yang diceritakannya nada tercekat pada Gordon dan Martine. Sebagaimana sebagian besar laki-laki, ia tak terbiasa membahas isi hatinya, mengorek masa lalunya. Mungkin karena Gordon dan Martine adalah seorang asing yang bertemu dengannya karena sebuah kebetulan di hari ini, maka ia bisa dengan lega bercerita soal masa lalu yang menyesakkannya selama enam tahun terakhir.

Untungnya memang Brett bukan Stefanus yang memilih gantung diri karena frustasi dengan dirinya sendiri. Setidaknya Brett masih punya nyali untuk menjalani hidupnya selanjutnya. Sebuah episode baru baginya yang direncanakannya untuk mengalir begitu saja, tanpa rencana, tanpa ambisi. Tapi hidup kadang memang tak diduga-duga.

Sebagaimana Brett, saya pun punya masa lalu yang mungkin saya sesali hari ini. Masa lalu yang ingin betul saya hapus. Masa lalu yang jika memungkinkan tak perlu terjadi. Tapi saya tak berdiri tegak disini di hari ini jika bukan karena masa lalu yang tak sepenuhnya menyenangkan itu.

Perjalanan menyusuri masa lalu adalah sebuah refleksi bagi siapapun. Menyadari sekali lagi kesalahan demi kesalahan yang diperbuat dan tahu betul bahwa hanya sedikit kesempatan untuk memperbaikinya. Berkat dua orang asing, Gordon dan Martine, yang jauh lebih muda darinya, Brett akhirnya sadar bahwa masa lalunya mungkin buruk tapi ia masih punya masa depan. Masih ada sapu tangan berwarna oranye yang kelak akan melambai dari kejauhan dan menunggu untuk ditemukan.

Film tentang perjalanan atau lazim disebut road movie memang selalu menjadi favorit saya. Selalu menyenangkan melihat karakter-karakter didalamnya yang berbeda watak akan saling beradu. Mereka akan beradu dalam satu pertentangan untuk kemudian bertemu dalam sebuah pengertian. Brett, Gordon dan Martine pada akhirnya saling memahami diri masing-masing. Brett tahu bahwa ia tak bisa selamanya menghindar dari masa lalu, Gordon tahu bahwa sebetulnya tak seorangpun membenci dirinya dan Martine akhirnya memahami ayahnya melalui caranya melihat Brett. Setelah melewati badai Katrina, mereka akan menjadi manusia-manusia baru dengan pemahaman yang berbeda tentang hidup.

Waktu memang selalu menjadi misteri bagi kehidupan manusia. Masa lalu, hari ini dan masa depan akan selalu berkelindan dan saling susul menyusul. Konsep waktu nyaris tak ada dalam perkara refleksi seorang manusia. Masa lalu, hari ini dan masa depan bisa berjalan secara acak di hadapan seorang manusia. Dan karenanya saya teringat sebuah puisi T.S Eliot.

Time present and time past
Are both perhaps present in time future

Bagi Stefanus, sapu tangan merah jambu adalah masa lalu. Dan bagi Brett, sapu tangan kuning itu adalah masa depannya.

 

THE YELLOW HANDKERCHIEF

Produser: Arthur Cohn

Sutradara: Udayan Prasad

Penulis Skenario: Erin Dignam

Pemain: William Hurt, Kristen Stewart, Eddie Redmayne

Video Terkait: