Tak banyak sutradara yang mampu menggarap beragam genre film sama baiknya. Tak banyak pula yang memilih berkutat dengan idealismenya ketimbang memperdulikan aspek komersial, ketika mengangkat kisahnya ke layar lebar. Salah satu dari yang sedikit itu adalah Michael Winterbottom, sutradara asal Inggris yang sangat dihormati kalangan sineas dari seluruh dunia. Ia pernah dengan cerdas mengangkat pernak–pernik kehidupan malam dengan dentuman musik yang menggelegar di 24 Hour Party People (2002). Ia pernah pula mengangkat tragedi kemanusiaan nan menyedihkan dalam Welcome to Sarajevo (1997). Melalui karya terbarunya, In This World, lagi–lagi Winterbottom membuat kita terpana dengan kisahnya. Yakni tentang perjalanan seorang anak bernama Jamal Udin Torabi menuju dunia baru. Yang mengasyikkan, Winterbottom yang membesutnya dengan gaya semi dokumenter, pintar betul mempermainkan emosi penonton dengan realisme kerasnya hidup yang melingkupi perjalanan Jamal beserta abangnya.
Padahal Jamal hanyalah seorang anak asal Afghanistan yang mengungsi di perkampungan bernama Peshawar. Keluarganya-lah yang mendorongnya untuk bertualang menuju dunia baru, dunia yang sama sekali lain dari yang dijalaninya selama ini. Maka berangkatlah Jamal ditemani abangnya menuju Inggris. Banyak peristiwa menarik yang mengiringi perjalanan Jamal. Mulai dari kakaknya yang meninggal, kesusahannya bertahan hidup hingga kenekatannya mencopet tas seorang wanita. Dan semua digambarkan Winterbottom dengan begitu realistik.
Hanya saja, jika penonton yang menduga bahwa In This World adalah kisah dokumentasi yang tak diatur dialog-nya, dibiarkan mengalir begitu saja, maka mereka tentu akan mengerutkan kening mendapati beberapa peristiwa ‘mengerikan’, seperti kematian kakak Jamal. Ya, In This World memang harus mencampur antara dokumentasi langsung dengan rekontruksi yang terkesan fiksional, demi mendapatkan penggambaran yang meyakinkan. Begitupun, di mata seorang penonton jeli sekalipun, susah untuk menduga bagian mana dari In This World yang ‘direkayasa’, sebab Winterbottom mengemasnya tanpa batas.
Yang juga patut dicatat dari In This World adalah sinematografi memukau di beberapa adegan, terutama pada adegan yang memperlihatkan panorama alam raya. Padahal, konon In This World dibesut dengan menggunakan kamera digital. Artinya, Winterbottom telah berhasil mengakali keterbatasan video dari seluloid dengan memaksimalkannya dan membuat kualitasnya nyaris serupa. Lagi–lagi, jika ditilik lebih jauh, In This World menginspirasi sineas muda untuk tak ragu bereksplorasi dengan teknologi digital, karena toh jika mampu mengantisipasi kelemahannya, akan menghasilkan gambar menawan.
Pada satu titik, In This World menyadarkan kita untuk selalu bersyukur. Manusia modern seperti kita biasanya tahunya cuma menggerutu, mengomel kanan-kiri, bahkan untuk hal–hal yang sepele. Seperti kopi kurang kental, sayur keasinan, baju yang tak rapi diseterika, dan sebagainya. Dan ‘pelajaran’ itu didapatkan dari Jamal yang bertampang inosens. Jamal berjuang mati–matian, menempuh ribuan kilometer, hanya untuk menikmati hidup seperti yang kita rasakan. Dan ia nyaris tak pernah mengeluh untuk itu.
Jika sesekali melihat dunia dari cakrawala pandang seorang Jamal Udin Torabi, maka niscaya segala macam keruwetan hidup bisa sedikit demi sedikit terkikis. Tak banyak lagi kasus korupsi yang kini mengemuka dimana–mana. Muaranya hanya satu: kita tak pandai bersyukur atas segala yang dilimpahkan Sang Khalik pada kita. Winterbottom berhasil menyentakkan kesadaran kita akan hal tersebut dan mudah–mudahan ia berhasil mempengaruhi mereka yang telah memirsa In This World.






LEAVE A REPLY